Jamaah Tabligh, Tertipu 450 juta bisnis Eco Racing



Ada kegiatan di Eco Racing yang meniru Jamaah Tabligh. Di Eco Racing namanya SLC (Spiritual Leadership Camp). Di Jamaah Tabligh namanya I’tikaf 3 hari. Sama sama kegiatan ‘mengasingkan diri’. Sesuai dengan arti kata i’tikaf. Kalau kita lihat foto-fotonya juga mirip. Sekilas susah membedakan mana SLC Eco Racing, mana i’tikaf Jamaah tabligh.



Salah satu Aktifitas dalam SLC Eco Racing

Tapi siapa sangka, kegiatan i’tikaf yang tujuannya khusuk beribadah itu ternyata dipakai Febrian Agung untuk tujuan duniawi. Menarik orang supaya ikut Eco Racing. Sebuah ironi. Karena Eco Racing itu bukan cuma urusan duniawi, tapi urusan duniawi yang sesat.


Tangkapan posting Febrian Agung. ‘I’tikaf’ untuk bisnis sesat

Tapi siapa sangka juga, kemiripan itu justru membuat puluhan anggota Jamaah Tablih tertipu bisnis Eco Racing. Jumlah kerugiannya tidak main-main. Mencapai 450 juta. Hampir setengah milyar.
Siapa sangka lagi, Febrian Agung yang sering berpenampilan seperti ahbab Jamaah Tabligh itu tak perduli dengan nasib korban penipuan, yang adalah ahbab Jamaah Tabligh.

‘I’tikaf’ untuk bisnis sesat

Mengapa Febrian Agung membuat SLC yang mirip I’tikaf 3 hari Jamaah Tabligh?
Sudah biasa bisnis sesat menggunakan simbol-simbol agama. Dari jaman koperasi Langit Biru, Koperasi Pandawa, Paytren, Komunitas Ta’awun itu sudah terjadi.

Keuntungannya ganda. Dengan atribut keagamaan, bisnis sesat bisa menyamarkan sesatnya. Orang akan berpikir, ‘pakaian seperti itu mana mungkin melakukan bisnis sesat yang haram’.
Dengan atribut keagamaan, bisnis sesat juga bisa menjaring orang lebih mudah. Orang akan lebih mudah percaya kalau yang mengajak bisnis itu berpakaian ala santri atau kiai. Apalagi dilengkai dengan mimbar dan petikan ayat suci.

Itulah strategi yang dipakai Febrian Agung. Berpakaian ala Jamaah Tabligh, membuat program ala Jamaah Tabligh, supaya menutupi kesesatan bisnisnya dan mudah mengajak orang.
Dan dengan meniru ke Jamaah Tabligh, ada keuntungan lainnya dia peroleh. Dia bisa lebih mudah menyusup ke Jamaah Tabligh.

Komunitas Jamaah Tabligh itu anggotanya konon sampai sejutaan di Indonesia. Dan komunitas ini punya ikatan yang kuat antar sesama anggota. Konon ikatan yang mirip dengan ikatan persaudaraan.
Jumlah besar dan ikatan yang kuat itu pas untuk bisnis jaringan. Bisnis semacam itu memang mengandalkan hubungan persaudaraan maupun pertemanan untuk mengembangkan jaringan. Seorang Jamaah ikut, bisa mengajak ratusan ‘saudaranya’ yang lain.

Sayangnya, bisnis Eco Racing yang di susupkan ke Jamaah itu bisnis sesat. Bisnis memperdaya orang yang penuh dengan kebohongan. Yang membuat tampilan I’tikaf di SLC itu sebuah ironi. I’tikaf Eco Racing hanya untuk mempromosikan bisnis sesat.
Silahkan baca berbagai kebohongan Eco Racing.

Bisnis membawa musibah

Bisnis semacam Eco Racing, Paytren, Qnet itu dipastikan akan membawa musibah buat banyak orang. Bisnis semacam ini bisa dibilang membawa berkah untuk satu orang, musibah buat ribuan orang. Setiap ada satu orang mendapat reward mobil, dibawahnya ada ribuan orang yang mendapat musibah.

Fakta perbandingan yang mendapat berkah dan musibah itu akan nyata saat bisnis semacam itu jenuh. Dan sayangnya, bisnis itu akan jenuh dengan mudah. Bisa dilihat di kasus bisnis DBS (bisnis sesat Febrian Agung sebelumnya). Juga bisa dilihat di Paytren saat ini.
Maka jangan heran, bila ada satu orang Jamaah Tabligh mendapat reward mobil, ada ribuan jamaah ‘downline’ nya yang mendapat musibah.

Musibah datang lebih cepat

Lebih tragisnya Eco Racing di Jamaah Tabligh, musibah itu datang lebih cepat. Lebih cepat karena penipuannya diperkuat oleh mitra Eco Racing sendiri. Bisnis sesat, bisnis penipuan yang diperkuat dengan penipuan lain.

450 juta rupiah untuk produk sampah

Puluhan jamaah ini membeli produk dengan total 450 juta untuk bergabung dengan bisnis Eco Racing. Kenyataannya, bisnis tak didapat, hanya mendapat produk tak berguna.
Menurut korban, dia ditipu oleh Mitra Eco Racing. Katanya juga, belakangan dia ketahui produk itu produk lelangan para ‘sniper’, mitra yang beli produk bukan untuk jualan, tapi untuk memperoleh bonus pasangan dan point reward.
Darimanapun produknya, pihak manapun yang menjual, pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dari kasus ini? Yang paling diuntungkan adalah Febrian Agung. PT BEST terima uang menjual produk sampah. Mitra ‘sniper’ mendapat reward, puluhan Jamaah tablih yang akhirnya kejatuhan produk tak berguna, tak laku dijual dan rugi 450 juta.
Siapa yang harus bertanggung jawab? PT BEST. Itu kalau mereka masih punya moral. Cukup buyback barang yang ada di Jamaah Tabligh. Kembalikan uang mereka. Toh, katanya, produk itu bisa dijual Eco Racing perusahaan besar. Atau mereka tak mau buyback karena itu memang benar-benar sampah?


Postingan Nuryakin di grup facebook Masyarakat Anti Ponzi


Daftar anggota Jamaah Tabligh, korban penipuan bisnis Eco Racing

Tertipu iming-iming 35 ribu sehari

Bukan hanya kelompok Nuryakin yang tertipu bisnis Eco Racing. Ada juga kelompok lain, kelompok Rahmad Hidayat, juga anggota Jamaah Tabligh.
Penipuan terhadap Rahmad Hidayat dan kawan-kawan mirip dengan penipuan Pak Sul yang sebelumnya (baca: Pak Sul tertipu bisnis Eco Racing) Ada iming-iming bonus harian 35 ribu sehari per paket Eco Racing. Semuanya tertipu oleh mitra Eco Racing yang sama: Ibnu Azis, yang tinggal di dekat kantor Eco Racing.

Sama saja sebetulnya. Secara moral Febrian Agung harus bertanggung jawab. Aliran uang berujung ke Febrian Agung. Aliran produk sampah ke Jamaah Tabligh.




Febrian tak perduli nasib Jamaah Tabligh

Yang mengenaskan adalah, Febrian Agung buang badan terhadap nasib korban penipuan. Korban, Prisai alias Nuryakin dan kawan-kawan harus menginap berhari-hari di Bandung, mengeluarkan biaya untuk mendapatkan solusi. Tapi sia-sia.
Yang menherankan adalah, Febrian Agung yang dalam ‘ceramahnya’ di ‘i’tikaf’ ala Eco Racing ingin supaya jamaah mendapat berkah, malah tak perduli ketika jama’ah mendapat musibah.
Mengapa Febrian Agung tak membeli kembali (buyback) produk yang terlanjur dibeli para korban? Apa karena dia takut produknya tak laku dijual kembali? Katanya laku milyaran di perusahaan besar?
Meniru i’tikaf Jamaah Tabligh, tapi tak perduli jamaah yang mendapat musibah?
Apakah Febrian Agung tak malu mengambil keuntungan dari kerugian orang? Bagaimanapun, ujung aliran dana adalah ke Febrian Agung.

Begitulah adanya MLM Skema Piramida

Ya. Begitulah adanya MLM sesat skema piramida. Produk hanya kamuflase. Produk sampah yang tak laku dijual. Hanya laku dengan mengumbar kebohongan.
Baca juga: Duka korban bisnis DBS Febrian Agung
Baca juga: Bisnis sesat Febrian Agung: DNI, DBS sampai Eco Racing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fingo, tipu-tipu berkedok e-commerce

Vtube, penipuan bisnis iklan lagi

EDC Cash Penipuan cucu MMM, ponakan E-Dinar