Komunitas Ta'awun: Ketika menipu disebut Ta'awun

Dalam Islam, salah satu ajaran dasar tentang akhlak yang baik adalah ta’awun. Artinya saling tolong menolong. Tentu tolong menolong dalam kebaikan, bukan tolong menolong dalam kejahatan.
Menolong bisa berbagi harta kepada yang memerlukan, berbagi ilmu bagi yang tak paham. Bisa juga memberi perlindungan bagi yang lemah. Apapun yang bisa memperkuat orang lain untuk hidup lebih baik menurut Islam.

Komunitas Ta’awun

Komunitas ini katanya komunitas saling tolong untuk bayar hutang. Makanya disebut komunitas Ta’awun.
Kelihatannya islami. Slogannya anti riba dan promosinya pakai ayat suci. Ada contoh kehidupan jaman nabi dan jaman Khalifah Turki Utsmani. Saat itu ada biasa ada orang yang membayarkan hutang orang lain.
Bagaimana cara ta’awun dalam komunitas ini? Gampang. Daftar saja jadi perserta. Lalu Anda transfer uang ke beberapa orang peserta yang masuk sebelum Anda.
Lalu bagaimana Anda dapat uang? Anda cari peserta baru. Nanti peserta beru itu akan transfer uang ke Anda. Makin banyak Anda transfer, makin untung Anda.
Apakah ini benar-benar saling tolong sesama? Sepintas ya. Tapi sebetulnya adalah komunitas tolong menolong dalam penipuan.

Komunitas Ta’awun itu bukan saling tolong

Cara transfer transfer uang, oper-oper uang dari peserta baru ke peserta lama itu disebut arisan berantai, alias skema ponzi. Cara ini sama sekali bukan saling tolong. Pertama, orang menolong itu tanpa berharap imbalan. Kecuali orangnya murid Yusuf Mansur. Kedua, dalam arisan berantai, selalu ada yang rugi. Dan jumlah yang rugi jauh lebih banyak dari yang untung. Yang untung dapat uang dari yang rugi. Yang rugi tak taku dia akan rugi. Makanya itu penipuan.

Kenapa pasti ada yang rugi?

Penjelasannya begini: setiap peserta harus mencari beberapa peserta baru supaya untung. Katakanlah setiap perserta harus ‘disumbang’ oleh 10 orang. Maka dari dari 1 peserta, butuh 10 peserta baru. Lalu yang 10 butuh 100, lalu 1000, 10.000, 100.000, sejuta, sepuluh juta, 100 juta, semilyar, 10 milyar peserta baru. Ups. Mentok. Karena jumlah manusia terbatas. Saat mentok itulah yang terakhir ikut ‘ta’awun’ akan rugi.
Tak perlu menunggu jumlah peserta sampai 10 milyar, sampai beberapa ribu saja sudah susah cari peserta baru. Karena tak semua orang mau ikut cara cari uang seperti ini. Cara yang pasti akan merugikan orang terakhir yang ikut.

Pasti ada yang rugi, apakah bisa disebut ta’awun?

Pastinya tidak. Arisan berantai sama sekali bukan tolong menolong karena pasti ada yang rugi. Dan yang rugi pasti berlipat ganda dari yang untung. Kalaupun disebut tolong menolong, itu tolong menolong untuk menipu.
Cuma ada 2 golongan yang menyebut komunitas Ta’awun adalah tolong menolong dalam kebaikan:
  • Golongan orang bodoh, yang tak paham arisan berantai atau skema ponzi.
  • Golongan maling, yang memang paham tapi mengambil kesempatan dari banyaknya orang yang tak paham.

Pendiri adalah penipu yang melecehkan Agama

Komunitas Ta’awun ini sebetulnya skema ponzi yang sangat recehan. Meski recehan, Komunitas Ta’awun menggambarkan fenomena menarik zaman now. Orang makin berani melecehkan agama. Menjadikan agama sebagai topeng untuk melakukan penipuan.
Mengapa penipuan? Karena ngustadz Much Nasrulloh Al Jufry berbohong untung mencari keuntungan, membuat orang setor uang. Dia bilang arisan berantai sebagai komunitas ta’awun, komunitas saling tolong menolong. Pakai bahasa sedekah dan berbagai istilah-istilah yang Islami.
Karena kebohongan itu orang ikut. Dan dengan kebohongan itu dia mendapat keuntungan. Setiap ada orang yang ikut, dia mendapat 10 ribu rupiah. Sebagai catatan, orang bisa saja ikut sekian kali 50.000. Pokoknya, 20% buat ngustadz.
Kenyataannya ini sama sekali bukan tolong menolong. Ini cuma komunitas yang mencari keuntungan di atas kerugian orang lain (orang yang masuk belakangan saat bubar – dan pasti bubar). Persis sama dengan MMM nya mavrodi dan Dream for Freedom.
Bedanya dengan MMM, bandarnya jujur bahwa MMM itu skema ponzi, tak pakai embel-embel agama. Sebaliknya komunitas Ta’awun memakai simbol-simbol agama. Ta’awun itu sendiri ajaran dasar dalam Islam tentang akhlaq. Dan dia pakai sebagai nama komunitas penipuan.

Penggagas Komunitas Ta’awaun

Namanya Much Nasrulloh Al Jufry, ST. Tidak terlalu banyak dikenal orang. Katanya punya pesantren dan beberapa bisnis. Lihat profilenya (di Facebook), dia jenis orang yang suka kasih solusi. Tapi solusi yang aneh. Ada solusi bisinsi online, tapi pakai skema Anne Ahira. Jual materi-materi bisnis, dengan rayuan orang bisa menjual materi tersebut. Ada solusi bebas hutang tapi dengan skema maling komunitas Ta’awun ini.


Much Nasrulloh Al Jufry

Layakkah ikut komunitas Ta’awun?

Dari segi materi, ikut komunitas ini memang bermodal kecil. Hanya 50.000 rupiah. Bisa untung, bisa buntung kalau baru masuk sudah susah cari pesrta baru. Tapi ingat, kalaupun untung, hitungan akhirnya adalah: Keuntungan anda ada uang orang yang rugi.
Ikut komunitas penipuan Ta’awun kemungkinannya cuma dua: Anda menjadi maling atau dimaling. Kecuali sang ngustadz, yang pastinya dia memaling.
Dan ikut komunitas Ta’awun berarti tolong menolong dalam penipuan.
Komunitas Ta’awun juga menggambarkan salah satu keterbelakangan negara kita. Ketika orang bebas menipu, dan masih banyak orang yang mudah ditipu. Bahkan dengan cara usang ‘chain letter’ model komunitas Ta’awun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fingo, tipu-tipu berkedok e-commerce

Vtube, penipuan bisnis iklan lagi

EDC Cash Penipuan cucu MMM, ponakan E-Dinar