HERMAN MAKMUR DARI BTC PANDA SAMPAI DYNAMIC 2 TRANSFER (D2T)

Sumbangan tulisan dari Ani Setyawati

Ada yang masih ingat Herman Makmur ? atau ada yang pernah menjadi korbannya ?

SiapakahHerman Makmur ??

HermanMakmur sesuai dengan nama di KTP nya tinggal di Jalan Bunda Raya N0. 1C,Rt.002/Rw.06, Ulak Karang Utara, Padang Utara.

Herman Makmur berkecimpung dalam dunia per-ponzian sejak jaman BTC Panda bersama Fredy Wiradjaya, Walaupun BTC Panda sudah di banned SWI (Satgas Waspada Investasi) namun pelakunya masih bebas seperti Fredy Wiradjaya dan Herman Makmur ini. Meskipun para korban di BTC Panda sudah melaporkan sang maling, tapi sampai saat ini kasusnya masih belum tuntas, dan sudah berjalan +/- 4 tahun.

HermanMakmur bersama Fredy Wiradjaya BTC Panda

Beritaterkait BTC Panda; Kesaksian Korban Investasi Bitcoin BTC Panda: DijemputFerrari dan Menginap di Hotel Mewah Malaysia http://kom.ps/AFyrsY

Walau kasusnya sudahmasuk dalam ranah kepolisian , Herman Makmur masih bisa membuat Ponzi barudengan nama MESTRO DIGITAL (Maestro Pulsa), yaitu aplikasi bayar-bayar yangmirip paytren.

Tak berhenti sampaidisitu, rupanya cryptocurrency sudah menjadi modus favorite Herman Makmur, dia membuatNPC (Near Plus Coin), NPC adalah coin sampah yang memakai sistem Ponzi, NPChanya sebagai sarana oper-operan duit, dan tentu saja Herman Makmur sekali lagiberhasil memaling uang orang lain  dariNpc.

Untunglah SWI menciumaroma penipuan, Maestro Digital dibanned tahun 2017 sedangkan NPC tahun 2018.

https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Siaran-Pers-Efektif-Tergabung-13-Kementerian-Lembaga,-SWI-Imbau-Masyarakat-Waspadai-Penawaran-Investasi-57-Entitas.aspx

Ini promo NPC di grup FaceBook

Memang NPC sudah dibanned, tapi muncul lagi dengan nama DYNAMIC 2 TRANSFER (D2T)  .Walau dengan nama baru tapi coin masih tetap NPC, D2T adalah reinkarnasi dari Near Plus Coin yang sudah mati suri dan Herman Makmur tak pernah jera untuk terus melakukan penipuan.

Herman Makmur membodohimember-membernya dengan melakukan seminar di berbagi tempat di Indonesia,Bahkan tak jarang dihotel berbintang untuk menyakinkan member bahwa bisnisnyaadalah real.

Mengapa Herman Makmur masih bebas ??

Karena memang belumada aturan yang tegas mengatur hal tersebut. Saat ini kasus-kasus money gameseperti ponzi masih ikut dalam Undang-undang Perbankan. Begitu lemahnyaundang-undang untuk menjerat para pegiat money game, membuat orang tak jeramelakukannya lagi..lagi..dan lagi.

Herman Makmur taksendiri, dia bersama istrinya Titin adalah sepasang maling pegiat Ponzi.Ternyata pepatah, dibalik kesuksesan seorang suami ada seorang istri yang mendukung,berlaku juga bagi seorang maling.

Wahai para istri, apakah anda mau diberi nafkah uang hasil memaling orang lain? Dimanakah nurani anda?

Herman Makmur bersamaTitin (sang istri)

Dimanakah Pemerintah ?

Jika mengikutiperjalanan Herman Makmur di dunia Ponzi, tentu saja ini membuat kita merasageram, Kok bisa ya seseorang yang jelas-jelas sebagai pelaku money game  bebas tak dihukum padahal kasusnya sudahdiekspos media, bahkan para korban juga sudah melapor.

Apakah pemerintah takserius dalam melindungi rakyatnya dari para maling jaman now ?  Apakah sulit menangkap para pelaku ? Apakahpemerintah tak paham money game ?

Apakah Peran Kita sebagai Masyarakat ?

Untuk menghindaripenipuan money game sebaiknya kita berhati-hati dalam berinvestasi, terusmencari tahu dan menambah wawasan mengenai money game. Jangan tergiur olehtawaran dengan profit/imbal hasi;/keuntungan dengan nilai yang tak logis.

Tetap berhati-hati denganentitas yang sudah memiliki legalitas, karena legalitas tak menjamin sebuahentitas itu bebas dari money game atau tidak.

Pelajari dulusystem/marketing plannya. Apalagi pemerintah belum punya undang-undang yangmelindungi rakyat dari penipuan jenis ini, jadi sebagai rakyat, kitalah yangharus melindungi diri sendiri dari Herman Makmur Herman Makmur yang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fingo, tipu-tipu berkedok e-commerce

Vtube, penipuan bisnis iklan lagi

EDC Cash Penipuan cucu MMM, ponakan E-Dinar