Solusi bagi korban Memiles yang ditutupi para Leader

Dalam artikel yang lalu, ‘Korban memiles, begini kalau uang mau kembali‘, saya mengatakan bahwa cara paling ampuh supaya uang kembali adalah pendekatan langsung ke para Leader. Itu benar. Tak perlu saya meralat. Tapi di Memiles, ada secercah harapan selain geruduk para Leader.

Di Memiles, harapan dana kembali secara hukum itu lebih besar

Memiles itu kasus skema ponzi yang sedikit berbeda dari skema ponzi lain. Memiles hanya berumur 8 bulan. Beda dengan kasus skema ponzi lain yang umurnya tahunan.

Umur yang pendek inilah yang memungkinkan uang korban bisa kembali dalam jumlah yang lumayan. Tidak akan 100%, tapi lumayan dibanding skema ponzi lain yang cuma berkisar di angka 5% (kalaupun kembali).

Dengan umur yang pendek itu, pihak kepolisian bisa lebih mudah menelusuri kemana saja aliran aset Memiles. Karena Memiles adalah sebuah kejahatan, maka aliran dana tersebut bisa dianggap sebagai pencucian uang.

Kemanakan larinya asset? Paling banyak tentu ke para Leader! Mereka orang yang umumnya lebih dulu jadi member. Otomatis mereka adalah orang-orang sudah mendapat berbagai bonus. Mereka juga mendapat komisi dari setiap member yang top-up.

Dan pihak Kepolisian memang menyatakan begitu. Mereka akan menarik bonus-bonus yang sudah disebarkan. Di kasus Memiles itu mungkin karena umur skema ponzi yang pendek. Data dan aliran aset masih mudah ditelusuri. Aset juga kebanyakan berbentuk barang. Itu mempermudah. Beda dengan kasus ponzi first travel. Mana bisa menarik duit yang sudah dipakai untuk membiayai jamaan yang sudah berangkat? Beda juga dengan kasus Pandawa yang umurnya sudah tahunan.

Niat kepolisian Itu tentu membuat para Leader bergidik. ‘Oh my God. Gengsi sudah naik dengan punya mobil baru. Oh my God, emas sudah dijual. Harus bagaimana ini? Ok, ok, mari kita bohongi para member supaya sama sama protes proses hukum Memiles” Begitulah yang kira-kira ada di kepala para Leader memiles.

Tentu bukan para Leader yang bergidik. Member lama yang sudah dapat bonuspun bergidik. Juga para koordinator konsorsium.

Tingkah para Leader yang ketakutan

Para leader Memiles lalu gencar memprotes pemerintah yang menutup Memiles. Mereka juga mempengaruhi member Memiles yang lain untuk menuntut Memiles beroperasi kembali.

Leader-leader penipuan skema ponzi berulah itu sudah biasa. Dari jaman Langit biru sampai Pandawa juga begitu. Mereka terus mengeluarkan opini yang menyesatkan para korban. Jarang ada Leader yang bertanggung jawab dengan nurani. Cuma satu dua.

Tapi di Memiles lebih parah. Mungkin karena Memiles dibredel saat belum ada pengaduan dari korban langsung. Itu makanya mereka selalu teriak, Tidak ada yang merasa dirugikan, mengapa dibredel? Kami baik-baik saja selama ini.

Buat orang yang punya akal sehat, teriakan mereka itu sebetulnya membuat perut mual. Sudah diakui oleh pentolan Memiles sendiri, dan terbukti secara faktual bahwa Memiles memberikan bonus dari uang member sendiri. Itu menerangkan banyak hal: Bahwa selama ini Memiles berbohong, bahwa selama ini Memiles hanya menjalankan skema ponzi.

Buat orang yang punya akal sehat, fakta itu akan membuat berpikir: Kalau operasi Memiles diteruskan, apa yang akan terjadi selanjutnya? Tak lain dan tak bukan, hanya memperbesar jumlah korban nantinya.

Para Leader Memiles juga menyalahkan OJK. Alasannya dari awal, Memiles bukan perusahaan yang menghimpun investasi. Lalu apa? Orang setor uang (yang adalah modal) untuk memperoleh keuntungan (yang adalah bonus dan reward) apa namanya kalau bukan investasi? Arisan ? Oh, ya. mereka betul. Arisan berantai alias skema ponzi.

Para Leader di skema ponzi selalu membuat opini bodoh dan sesat karena beberapa hal. Utamanya mereka tak mau disalahkan oleh para membernya. Karena mereka adalah orang yang mengajak para member untuk bergabung. Juga mereka tak mau terseret kasus hukum. Sebab pasal 55 dan 56 KUHP sebetulnya bisa menjerat mereka. Itu makanya mereka berlagak bodoh.

Korban Memiles, jangan percaya Leader dan pihak yang protes

Jadi, uang para korban Memiles (orang yang belum mendapat bonus) lebih besar harapannya kembali. Ini bila dibanding kasus skema ponzi yang lain.

Alih-alih mengikuti opini bodoh dari para Leader, para koordinator konsorsium, atau para member lain yang sudah mendapat bonus, yang perlu dilakukan korban adalah:

Lapor kepada kepolisian. Lengkapi informasi bahwa si Leader A sudah mendapatkan ini. Si B sudah mendapatkan itu. Bantu polisi untuk mendapatkan aset. Dengan begitu akan memperbesar dana yang bisa dikembalikan kepada para korban.

Jangan percaya semua yang dikatakan Leader. Mereka menyesatkan Anda hanya supaya bonusnya tidak ditarik.

Jangan lupa masukkan Leader Anda dan koordinator konsorsium Anda sebagai pihak terlapor. Mereka adalah orang yang turut serta, atau paling tidak membantu penipuan Memiles. Itu ada pasalnya. Juga tentu pendekatan personal, minta pertanggungjawaban.

Apapun jalannya, itu ada harapan. Harapan yang coba ditutupi oleh para Leader Memiles supaya bonus mereka tak ditarik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fingo, tipu-tipu berkedok e-commerce

Vtube, penipuan bisnis iklan lagi

EDC Cash Penipuan cucu MMM, ponakan E-Dinar