Siapakah mendukung Memiles?

Dukungan kepada Memiles itu luar biasa. Luar biasa anehnya. Beda dengan skema ponzi lain. Di skema ponzi lain, saat Bandar maling sudah ditangkap, para Leader rata-rata bungkam. Ada yang memprotes pembredelan, tapi cuma sedikit. Itupun diam-diam.

Beda sama Memiles. Protesnya nyaring. Yang menuntut Memiles berjalan kembali tak malu-malu menampilkan mukanya. Sampai ke TV, sampai ke DPR.

Yang bisa berpikir dan bermoral tak akan membela Memiles

Untuk orang yang bisa berpikir, ketika Suhanda mengatakan tak ada penghasilan dari Google, mereka akan shock. Patah hati. Dewanya ternyata tukang bohong. Kepercayaan hancur.

Ketika mendengar bahwa Eva Luisa Martina ternyata cuma tukang akupungtur, bukan dokter, orang yang bisa berpikir jugah akan teriak, ‘baddaaah’. Dan kepercayaan mereka terhadap Memiles bukan cuma hancur, tapu menguap, sirna.

Untuk orang yang yang bisa berpikir, begitu tau bahwa tak ada penghasilan dari Google, tak ada penghasilan darimanapun selain dari top-up member, mereka akan berpikir:

  • Lalu bagaimana memiles bisa bayar bonus?
  • Bagaimana uang top-up 6 juta rupiah itu bisa jadi mobil?

Lalu korek-korek internet tentang apa itu skema ponzi, mereka akan tau. Oh, my god. Mereka bayar semua bonus pakai uang top up. Cepat habis, dong. Supaya bisa bayar bonus terus, harus ada masukan dari top-up terus menerus dan berlipat ganda. Harus ada member baru dengan jumlah berlipat ganda.

Dan itu mustahil pada akhirnya. Bangkrut pada akhirnya. Dan saat bangkrut itu orang-orang yang belakangan masuk akan rugi. Jumlah yang rugi akan jauh, jauh, jauh lebih banyak daripada jumlah yang telah mendapat bonus. Itulah skema ponzi. Tak ada satupun skema ponzi yang bisa bertahan lama. Bahkan skema ponzi yang skala international seperti MMM. Bahkan skema ponzi halus dengan profit relatif ‘wajar’ seperti kasus Madoff.

Dan untuk orang yang bisa berpikir dan bermoral, mereka juga akan berpikir, “kalau dilanjutkan, dan lalu bisa tetap berjalan, saya memang tak akan rugi. Saya kan mendapat bonus. Tapi orang lain setelah saya, entah kapan, akan menjadi korban”.

Pikiran itu memang akan membuat dilema. Mau saya yang menjadi korban, atau orang setelah saya? Untuk orang yang bermoral, mereka akhirnya akan ‘ya sudahlah’. Sekarang korbannya hanya 200 ribuan. Kalau diteruskan, korbannya mungkin akan menjadi 500 ribu, atau jutaan orang. Sudahlah, ini jadi pelajaran. Mudah-mudahan maling itu mendapat hukuman setimpal, supaya tak ada lagi korban mereka dimasa depan.

Lalu siapa yang nyaring membela Memiles?

Sebagian yang nyaring menuntut Memiles kembali berjalan itu adalah orang yang gagal paham. Gagal paham bisa karena memang tak mampu paham atau tak mau paham.

Mendengar Memiles tak dibayar Google, mereka tak perduli. Pokoknya selama ini bonus mengalir. Mendengar Eva ternyata bukan dokter, mereka juga tak perduli. Tukang akupungtur kan mirip doketer, mengobati orang orang juga.

Lalu dari mana memiles bisa bayar bonus? Ya siapa tau pentolah Memiles itu sebetulnya kanjeng dimas. Atau dari kakayaan Mr. Ram. Bodo amat. Yang penting belum ada yang dirugikan.

Lalu tentang rumor Memiles itu skema ponzi? bodo amat juga. Otakku tak mampu untuk memahami skema arisan berantai itu (walaupun sebetulnya mudah dipahami bahkan oleh anak lulusan SD).

Sebagian lain yang membela Memiles tak lain adalah pemain moneygame. Entah pemain baru atau pemain lama. Untuk orang berjenis pemain moneygame, masalahnya bukan paham atau tidak. Tapi rugi atau tidak. Apa orang lain akan rugi? Itu hukum dunia bro. Saling memangsa. Tinggal pilih, kita mau jadi pemangsa, atau yang dimansa.

Mau bukti? Lihat saja member yang berprofesi sebagai pengacara. Jejak digital membuka fakta bahwa dia juga dulu di UN Swissindo. Kelompok orang yang berhalunisasi bahwa ada warisan kerajaan di nusantara yang cukup untuk membebaskan hutang orang se Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fingo, tipu-tipu berkedok e-commerce

Vtube, penipuan bisnis iklan lagi

EDC Cash Penipuan cucu MMM, ponakan E-Dinar