Nasib Gunarni Gunawan dan bisnis Paytren Yusuf mansur

Gunardi Gunawan dikenal sebagai pebisnis wanita hebat. Pernah punya maskapai penerbangan dan bisnis yang lain. Dimana Gunardi sekarang? apa hubungannya dengan bisnis Paytren Yusuf Mansur?

Gunardi Gunawan sekarang ada di penjara. Dia divonis 15 tahun penjara dan denda milyaran karena bisnis MLM WONDERMIND-nya. Yang menarik, dia divonis terbukti melanggar pasal 105 UU Perdagangan No. 7 th. 2014 tentang SKEMA PIRAMIDA. Ini baru pertama kali terjadi di Indonesia.

Apa isi pasal 105 UU perdagangan?

Isinya singkat saja:. “Pelaku Usaha Distribusi yang menerapkan sistem skema piramida dalam mendistribusikan Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)”.

Apa itu skema piramida?

Dalam UU tersebut dijelaskan: “Yang dimaksud dengan “skema piramida” adalah istilah/nama kegiatan usaha yang bukan dari hasil kegiatan penjualan Barang. Kegiatan usaha itu memanfaatkan peluang keikutsertaan mitra usaha untuk memperoleh imbalan atau pendapatan terutama dari biaya partisipasi orang lain yang bergabung kemudian atau setelah bergabungnya mitra usaha tersebut.”

Mengapa Wondermind yang dijalankan Gunarni Gunawan dianggap sebagai skema piramida?

Wondermind sebetulnya adalah sistem penjualan tiket pesawat dan hotel dengan sistem pemasaran MLM. Orang yang mau ikutan jualan tiket harus jadi anggota dulu, sama dengan MLM pada umumnya. Tapi sayangnya, pada MLM Wondermind, orang dapat uang dari pendaftaran orang yang direkrutnya. Itu sudah masuk dalam definisi skema piramida pada UU Perdangangan. tadi.

Mengapa skema piramida terlarang?

Karena skema piramida membutuhkan seorang anggota merekrut beberapa anggota lain agar mendapat untung. Anggota baru tersebut selanjutnya merekrut beberapa anggota lain. Begitulah seterusnya. Sampai akhirnya ada masa jenuh, tak ada lagi orang yang bisa direkrut, bangkrutlah skema tersebut. Dan yang masuk paling belakang rugi.

Apa hubungan Gunarni Gunawan dan bisnis Paytren Yusuf Mansur?

Wondermind yang didirikan oleh Gunarni Gunawan dan Paytren yang didirikan oleh Yusuf Mansur punya ciri yang sama: Orang dapet uang dari pendaftaran member yang diajaknya. Sama sama skema piramida. Cuma yang satu ngakunya jualan tiket pesawat, yang satu lagi ngakunya jualan token pulsa, listrik dan lain-lain.

Baik Wondermind maupun bisnis Paytren Yusuf Mansur sama-sama berdalih bahwa komisi untuk anggotanya adalah dari penjualan keagenan, atau jual lisensi. Apapun mereka bilang, komisi itu muncul karena adanya pendaftaran orang lain. Dan esensi dari skema piramida adalah kebutuhan anggota baru yang terus membengkak dari waktu ke waktu. Itu terpenuhi baik di Wondermind maupun di bisnis Paytren Yusuf Mansur.

Hukum harus berlaku juga bagi bisinis paytren Yusuf Mansur

Bila Gunarni Gunawan dituntut karena pasal 105 UU perdagangan, maka Yusuf Mansur juga seharusnya dituntut dengan pasal yang sama. Tidak ada beda secara prinsip antara Wondermind Gunardi Gunawan dengan bisnis Paytren Yusuf Mansur. Mungkin produk akhirnya beda, mungkin biaya jadi anggota beda, mungkin komisi bagi anggota yang merekrut anggota lain beda. Tapi prinsipnya sama: anggota mendapat komisi dari pendaftaran anggota yang direkrutnya, bukan dari penjualan produk akhir.

Penanganan hukum pendiri Wondermind adalah sesuatu yang luar biasa bagi Indonesia. Ini kasus pertama pasal 105 UU perdagangan diterapkan dengan nyata. Ini bisa menjadi pelindung bagi masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih buta tentang skema piramida dan bahayanya. Maka patut kita tunggu hukum bergerak, penegak hukum lebih galak dan penerapan pasal 105 UU perdagangan tidak berhenti hanya pada Wondermind, tapi juga terus lanjut pada bisnis Paytren Yusuf Mansur dan MLM lain yang terang-terangan menerapkan skema piramida.

Baca juga halal haram paytren 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fingo, tipu-tipu berkedok e-commerce

Vtube, penipuan bisnis iklan lagi

EDC Cash Penipuan cucu MMM, ponakan E-Dinar